(Refleksi Atas Kirab Salib IYD)
Oleh P. Patrisius Dua Witin, CP
Salib IYD bukan milik orang Muda Katolik, juga bukan milik orang Katolik tetapi Salib itu Milik Kristus. Yang punya Salib hanya Kristus, kita tidak punya Salib. Maka perarakan Salib dari paroki ke paroki bukan Salib IYD tetapi “sekali lagi SALIB KRISTUS”. Kristus lah yang digantungkan di kayu salib itu bukan siapa-siapa yang digantungkan di sana. Oleh karena itu, kita harus mengarahkan pandangan kita kepada Salib Kristus.
Pada mulanya Kayu Salib dipakai untuk menghukum mati bagi orang-orang yang melakukan kejahatan besar. Hukuman yang paling memalukan karena orangnya sendiri memikul salibnya dan diarak menuju tempat penyaliban. Yesus disamakan dengan penjahat besar maka Dia dihukum mati dengan cara demikian. Peristiwa sejarah Salib Yesus yang kita renungkan pada hari raya Jumat Agung sesungguhnya telah membuka mata kita bahwa betapa dahsyatnya kesengsaraan yang dialami oleh Yesus di atas Salib.
Tragedi peyaliban Yesus di Golgota menyisakan kenangan buruk tentang kayu salib yaitu menjijikn, menakutkan, memalukan karena di atas palang salib itulah Tuhan kita dihukum mati. Dan Palang Salib itulah yang menghancurkan iman kita tentang Yesus adalah guru dan Tuhan. Tentang Hal ini Orang Yahudi dan orang Yunani tidak bisa menerima karena Salib Yesus Kristus dianggap sebagai suatu Kelemahan dan kebodohan Allah. Mereka tidak mengerti dan menerima bahwa Allah bisa mati di Kayu Salib.
Persoalannya mengapa Sampai saat ini, Salib menjadi daya tarik bagi banyak orang. Dan kemudian Salib menjadi lambang utama orang Kristen. Semua gereja harus dipasang Salib. Menara menara gereja harus dipasang salib, Rumah orang Kristiani harus dipasang Salib, sebelum berdoa harus membuat tanda Salib, sebelum main bola orang membuat tanda salib, bahkan sebelum orang bertinju mereka buat tanda salib. Bahkan salib digantungkan di leher, Salib diarak di mana-mana termasuk kita di sini. Rasul Paulus dalam bacaan pertama bilang begini Bagi orang Yahudi dan Orang Yunani “salib adalah kelemahan dan kebodohan Allah. Orang Yunani mencari kebijaksanaan dan apakah mereka mampu menilai kebodohan ini? Justru dengan kebodohan Salib, Yesus Kristus menghukum, menyalibkan dan membinasakan kebijaksanaan orang Yunani yang sebenarnya adalah suatu kebodohan. Ia memilih kematian untuk membinasakan kematian (Kis, 26:23; Kol, 1:18; Rm, 6:19; 1 Kor 15:26), Ia memilih penghinaan untuk membinasakan penghinaan (Flp, 2:8-11), memilih perbudakan untuk meniadakan perbudakan (Kol, 2:14; 1Ptr, 1:18; 2:9), Ia memilih kutukan untuk menghilangkan kutukan (Gal, 3:13), Ia memilih sebagai pendosa untuk membinasakan pendosa (Rm, 8:3), Ia mengalahkan para penguasa yang menyalibkanNya (1 Kor, 2:6,8; Kol 2:15), Dengan demikian Salib yang batu sandungan menjadi daya yang menarik semua orang kepada-Nya (Yoh, 12:31-33).
Yesus bilang lagi begini “setelah Aku ditinggikan di atas Kayu Salib Aku akan menarik semua orang untuk datang kepadaKu”. Di siniah letak daya tarik Salib Kristus. Karena itu Salib menjadi dasar iman orang Kristiani. Saya menjadi katolik karena Percaya pada Salib Kristus. .......Salib menjadi alat Keselamatan bagi semua orang. Setiap kali sebelum kita melakukan semua kegiatan kita harus buat tanda salib. Sebelum berangkat ke kegiatan IYD, OMK harus mengadakan perarakan salib biar mereka selamat dalam perjalanan atau kegiatan IYD akan berhasil dan lain-lain. Sekali lagi Salib sebagai alat Keselamatan, lambang kemenangan orang Kristiani.
Persoalannya bahwa Ketika orang keseringan berbicara tentang salib, menggunakan asesoris salib, maka kekuatan salib Kristus akan dikosongkan dari dirinya dan kemudian diserahkan pada kesombongan rohani. Perarakan Salib IYD bukan dijadikan sebuah ajang pertunjukan rohani, bukan sebuah ajang kunjung mengunjung orang Muda Katolik antar paroki. Bukan ajang rekreasi. Kita harus mendudukan kembali salib Kristus pada posisinya yakni Salib identik dengan penderitaan. Kita sedang melakukan jalan Salib terpanjang di dekenat kita dengan 22 perhentian yakni 22 paroki sebagai tempat perhentian Salib IYD. Hadirnya Salib di Paroki, kita jadikan momentum untuk merenungkan kembali penderitaan Yesus di atas Kayu Salib. Kita berjalan bersama Yesus yang Menderita sebagaimana Bunda Maria yang ikut berduka bersama Yesus dalam renungan tujuh Duka Bunda Maria yang nantinya kita mengelilingi kampung ini.
Kita orang Kotenwalang dan orang Lamaholot pada
umumnya senantiasa hidup dalam prosesi penderitaan. Penderitaan selalu baru,
sili berganti tanpa ada akhirnya. Kesetiaan kita untuk menerima prosesi penderitaan menjadikan kita bagian dari kemuridan
Kristus. Orang Muda Katolik harus menyadari dan menerima semuanya ini. Jangan
pernah mengingkari dan menutup prosesi penderitaan untuk masuk ke dalam prosesi
kemuliaan yakni dengan sikap hura-hura.
Yang mulia dihasilkan dari sebuah perjuangan dan perjuangan itu berat karena
melalui pederitaan yang hebat.
Jalan kita sudah diaspal dengan mulus, listrik juga sudah terang tapi
sebelumnya kita telah menikmati prosesi penderitaan yang panjang, tarik oto
sepanjang jalan pakai lampu pelita.
Jadi kita harus menderita untuk bangkit menuju
Hidup baru dan itulah yang menjadi Kesaksian kita kepada dunia. Amin...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar