Kurang lebih lima abad
yang lalu, benih Sabda Allah sudah
ditaburkan di tanah Lamaholot jika kita memakai ukuran perayaan lima abad
prosesi Semana Santa di Larantuka. Lima abad bukan waktu yang sedikit untuk
bernostalgia. Buah-buah hari ini merupakan hasil produksi yang telah berakar lima abad yang lalu.
Sejarah perjalanan lima abad telah membuktikan bahwa Gereja Larantuka berjalan
tertatih-tatih, umatnya terlunta-lunta dan penuh darah dan air mata. Daftar
nama-nama misionaris perdana dalam bab pertama buku ini mengamini bahwa tanah
misi Lamaholot dibayar mahal dengan darah para martir.
Kemudian hari, tanah misi
Lamaholot (Flores, Adonara, Solor,
Lomblen) dijual murah oleh bangsa
Portugis kepada bangsa Belanda seharga 120.000 gulden. Angka ini setelah dipotong dengan isi perjanjian traktat Lisabon 20 April 1859 bahwa iman umat Katolik di tanah Lamaholot tidak diganti dengan
ajaran Agama baru melainkan diberi kebebasan beragama.[1] Gregorio
Maria Barreta, imam Potugis yang tersisa dengan sedih berpesan
kepada umat di tanah Lamaholot bahwa “You may change your flag, but you should never change your religion.”.[2] Tawar menawar penjualan
tanah Lamaholot dengan mempertaruhkan agama menaikan tensi suhu politik dagang
antar dua negara adikuasa yang bercokol di tanah Lamaholot (Portugis dan Belanda) yang berimbas pada porakporandanya kehidupan
iman umat. Saat-saat itu, kehidupan sekelompok kecil umat Kristiani
terlunta-lunta tanpa gembala. Ordo ketiga Dominikan yang menamakan dirinya
Conferia bekerja keras menjaga dan memelihara iman umat sampai hadirnya
misionaris baru.[3]
Kehadiran yang barupun berjalan tertatih-tatih karena mereka akan berhadapan
dengan masyarakat adat yang kuat serta perang tanding antar kampung (paji dan demong).
Persoalannya: mengapa
Tuhan membiarkan umat terlunta-lunta
tanpa gembala dalam sebuah periode yang begitu panjang? Apakah Ia ingin menguji
tingkat kematangan iman umat dengan cara ini? Apakah Ia menunggu (kairos) “saat yang tepat”? Kisah ini sangat menyakitkan dan
dengan terpaksa harus diterima sebagai kehendak Allah sebagaimana skenario
Allah dalam tragedi Kalfari yang berujung pada Kebangkitan yang mulia.
Persoalannya: apakah umat Katolik di tanah lamaholot dan secara khusus umat
Kotenwalang sudah dan akan bangkit bersama Kristus?
[1]Eduardus Jebarus, Sejarah Keuskupan Larantuka, Op.cit.
hal 38-39. Tarif yang dipasang ini masih sangat bernilai jika dibandingkan
dengan harga Tuhan Yesus yang hanya dijual seharga 30 keping perak (Matius 26:15). Sama harganya
dengan seorang budak (Zakariah 11:12).Penjualan ini untuk
mengamankan asas yang berlaku saat itu “cujus
regio,illius (et) religio”. Lih. Dr.
Jan Riberu, Jejak Langkah Pendidikan Para
Misionaris, dalam LARANTUKA DALAM ZIARAH RELIGIUS” PT. Pohon Cahaya, hal. 3.
[2] Jan
Sihar Aritonang, Karel Steenbrink, Old
and New Christianity in The South Eastern
Islands, Op.cit, p. 230.
[3]Eduardus Jebarus,
Op.cit. hal. 24-25.
