Iklan

Sabtu, 24 Oktober 2015

KOTEN


Desa Koten, nama yang cukup asing bagi masyarakat Kabupaten Flores Timur. Bahkan banyak orang tak pernah mendengar nama ini. Persoalan dasar yang sering diajukan adalah ada apa dengan Koten? Koten nama sebuah kampong di Ujung Timur Pulau Flores, tepatnya di bagian kepala burung Pulau Flores. Nama Koten dalam bahasa daerah Lamaholot artinya Kepala. Karena letaknya di bagian kepala pulau Flores maka layak menyandang nama Koten. Dia  ada di atas semua yang ada di Flores Timur. Nama Koten juga merupakan sebuah nama suku besar yang ada di Flores Timur yang menempati urutan pertama. Koten adalah suku Kebelen dan harus disebut pertama sebelum suku-suku yang lain. Biasanya mereka menyebut “Koten-Kelen, Hurint – Maran. Empat suku yang tak dapat disebut secara terpisah tetapi “KOTEN” harus disebut yang pertama dari semuanya.
Persoalanya: Jika Koten menempati urutan pertama sesuai dengan namanya, mengapa selama ini pemerintah memandang sebelah mata sehingga Nama  Koten yang nota bene sebagai nama Kebelen ditelantarkan?  Masyarakat terisolir dari dunia luar. Mereka belum menikmati kemajuan yang berarti. Syukurlah pada masa pemerintahan bupati Felix Fernandes,  masyarakat dapat menikmati dunia pendidikan setelah dibangun SMP Negeri 2 Waiklibang sekaligus pembukaan jalan menuju Lewokoli, Koten, Kolontobo, Basira dan Tone. Itupun mereka harus mengeluarkan uang sekitar Rp. 500.000 hanya untuk transportasi ojek pergi pulang ke kota Larantuka. Belum ada transportasi umum masuk di wilayah ini menyebabkan transportasi sangat mahal. Pada musim kemarau mereka menghandalkan juga motor laut kecil dengan biaya yang sama menuju kota Reinha Larantuka.
Gereja telah membuka mata untuk wilayah ini dengan mempersiapkan pemekaran paroki Baru di Koten Walang. Ini merupakan langkah awal yang bagus untuk  mempersempit pelayanan pastoral dan pelayanan administrasi parokial. Akankah ada pemekaran Kecamatan Baru di Koten? Masyarakat sangat mengharapkan pemekaran Kecamatan di Koten demi pelayanan public sebagai warga Negara dapat dimaksimalkan. Dengan demikian “KOTEN” layak menyandang nama Koten (kepala) sesuai dengan  namanya.