Iklan

Senin, 24 Agustus 2026

Tanah Lamaholot Mahal Harganya, Panas Suhunya



Kurang lebih lima abad yang lalu, benih  Sabda Allah sudah ditaburkan di tanah Lamaholot jika kita memakai ukuran perayaan lima abad prosesi Semana Santa di Larantuka. Lima abad bukan waktu yang sedikit untuk bernostalgia. Buah-buah hari ini merupakan hasil produksi  yang telah berakar lima abad yang lalu. Sejarah perjalanan lima abad telah membuktikan bahwa Gereja Larantuka berjalan tertatih-tatih, umatnya terlunta-lunta dan penuh darah dan air mata. Daftar nama-nama misionaris perdana dalam bab pertama buku ini mengamini bahwa tanah misi Lamaholot dibayar mahal dengan darah para martir.

Kemudian hari, tanah misi Lamaholot (Flores, Adonara, Solor, Lomblen) dijual  murah oleh bangsa Portugis kepada bangsa Belanda seharga 120.000 gulden.  Angka ini setelah dipotong  dengan isi perjanjian  traktat Lisabon  20 April 1859 bahwa iman umat Katolik  di tanah Lamaholot tidak diganti dengan ajaran Agama baru melainkan diberi kebebasan beragama.[1] Gregorio Maria Barreta, imam Potugis yang tersisa dengan sedih berpesan kepada umat di tanah Lamaholot bahwa You may change your flag, but you should never change your religion..[2] Tawar menawar penjualan tanah Lamaholot dengan mempertaruhkan agama menaikan tensi suhu politik dagang antar dua negara adikuasa yang bercokol di tanah Lamaholot (Portugis dan Belanda) yang berimbas pada porakporandanya kehidupan iman umat. Saat-saat itu, kehidupan sekelompok kecil umat Kristiani terlunta-lunta tanpa gembala. Ordo ketiga Dominikan yang menamakan dirinya Conferia bekerja keras menjaga dan memelihara iman umat sampai hadirnya misionaris baru.[3] Kehadiran yang barupun berjalan tertatih-tatih karena mereka akan berhadapan dengan masyarakat adat yang kuat serta perang tanding antar kampung (paji dan demong).

Persoalannya: mengapa Tuhan  membiarkan umat terlunta-lunta tanpa gembala dalam sebuah periode yang begitu panjang? Apakah Ia ingin menguji tingkat kematangan iman umat dengan cara ini? Apakah Ia menunggu (kairos) “saat yang tepat”? Kisah ini sangat menyakitkan dan dengan terpaksa harus diterima sebagai kehendak Allah sebagaimana skenario Allah dalam tragedi Kalfari yang berujung pada Kebangkitan yang mulia. Persoalannya: apakah umat Katolik di tanah lamaholot dan secara khusus umat Kotenwalang sudah dan akan bangkit bersama Kristus?



[1]Eduardus  Jebarus, Sejarah Keuskupan Larantuka, Op.cit. hal 38-39. Tarif yang dipasang  ini masih sangat bernilai jika dibandingkan dengan harga Tuhan Yesus yang hanya dijual seharga 30 keping perak (Matius 26:15). Sama harganya dengan  seorang budak (Zakariah 11:12).Penjualan ini untuk mengamankan asas yang berlaku saat itu “cujus regio,illius (et)  religio”. Lih. Dr. Jan Riberu, Jejak Langkah Pendidikan Para Misionaris, dalam LARANTUKA DALAM ZIARAH RELIGIUS”  PT. Pohon Cahaya, hal. 3.

[2] Jan Sihar Aritonang, Karel Steenbrink, Old and New Christianity in The South Eastern Islands, Op.cit, p. 230.

[3]Eduardus Jebarus, Op.cit.  hal. 24-25.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar